Bupati Kokok sosialisasikan kelor untuk atasi stunting

Senin, 29 Juli 2019 18:00 WIB

Bupati Blora H. Djoko Nugroho melakukan ramah tamah saat menggelar sosialisasi pemanfaatan daun kelor untuk mengatasi stunting, Senin (29/7/2019).

BLORA (mustika.wartablora.com)—Bupati Blora H. Djoko Nugroho yang kerap disapa dengan Bupati Kokok menyosialisasikan penggunaan daun kelor untuk mengatasi stunting di Kabupaten Blora. Sosialisasi disampaikan kepada ibu-ibu pengurus PKK kecamatan se-Kabupaten Blora dan kepala puskesmas se-Kabupaten Blora, dihadiri Direktur Industri Makanan, Hasil Laut dan Perikanan Kemenperin, Ir. Enny Ratnaningtyas, MS dan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Blora, Ibu Dra. Hj. Umi Kulsum, juga kepala OPD terkait, serta para camat se-Kabupaten Blora. 

"Bicara kelor, bukan berarti bicara klenik. Tapi bicara tentang kasiatnya untuk kesehatan. Tanaman kelor ternyata mempunyai banyak manfaat untuk kesehatan termasuk mencegah stunting atau kekerdilan. Banyak orang dari luar negeri yang datang ke Blora untuk belajar mengolah kelor. Kita sendiri sebagai orang asli Blora juga harus lebih paham tentang kelor," terang Bupati Kokok di acara Sosialisasi Pemanfaatan Kelor yang diselenggarakan Pemkab Blora dan Ikatan Sarjana Wanita Indonesia (ISWI), Senin (29/7/2019) di Pendopo Rumah Dinas Bupati Blora.

“Ibu-ibu PKK harus bisa cerewet kepada ibu-ibu lainnya agar mau ikut mengonsumsi kelor. Makan kelor tidak harus berbentuk biji atau serbuk. Bisa disayur, dicampurkan dengan makanan lain agar anak-anak mau makan. Nanti akan dijelaskan bagaimana saja cara konsumsi kelor,” lanjut Bupati. 

Dalam kesempatan itu, Bupati juga meminta testimoni dari beberapa orangtua yang berhasil menambah tinggi dan berat badan anaknya setelah rutin mengonsumsi kelor, serta memberikan bingkisan kepadanya.

Sementara itu, Direktur Industri Makanan, Hasil Laut dan Perikanan, Kemenperin, Ir. Enny Ratnaningtyas, MS mengapresiasi adanya sentra kelor di Kabupaten Blora. Pihaknya ingin seluruh warga Blora bisa ikut memanfaatkan kelor guna peningkatan gizi masyarakat. 

“Kelor di Blora sangat bagus dan banyak diminati. Oleh karena itu kita ingin agar seluruh warga Blora bisa memanfaatkannya agar tidak lagi terjadi stunting. Dari data yang ada masih sekitar 30 persen balita di Blora menderita stunting,” ungkapnya.

Setelah mengonsumsi kelor, Bu Direktur menyarankan agar beragam produk kelor yang dibuat bisa dipatenkan agar Blora semakin dikenal berkat aneka produk olahan kelornya. 

Usai pembukaan dilanjutkan dengan sosialisasi. Adapun yang bertindak sebagai pembicara adalah Ir. Ai Dudi Krisnadi dari Puri Kelorina, kemudian Ir. Retno Sri Endah Lestari, M.Sc, PhD, Ir. Ferry Soraya M.SIE, Dra Euis Saedah M.Sc yang ketiganya dari ISWI Jakarta. 

Ir. Ai Dudi Krisnadi mengatakan bahwa pohon kelor adalah pohon ajaib atau 'miracle tree'. Terutama di bagian daunnya. Sebagaimana kelompok sayuran maka daun kelor kaya vitamin, mineral, serat dan fitokimia. Dan kandungan vitamin dan mineralnya dibanding sayuran lain pada umumnya lebih tinggi kelor.

 “Menurut sebuah penelitian, vitamin A di daun kelor empat kali lebih tinggi daripada wortel dan vitamin C tujuh kali lebih tinggi dari jeruk. Dengan kandungan yang bisa menangkal radikal bebas tersebut, stres oksidatif juga bisa dikurangi,” ujarnya.

 Usai sosialisasi, dilanjutkan dengan kunjungan ke Pusat Pengembangan Tanaman Kelor “Puri Kelorina” di Desa Ngawenombo, Kecamatan Kunduran. (Tim Liputan Humas Protokol Setda Blora)