Panen Padi Perdana SRI Organik, Bupati: Terima Kasih Pertamina

Selasa, 29 Januari 2019 19:13 WIB

Bupati Blora H. Djoko Nugroho mengacungkan jempol saat secara simbolik memanen padi SRI Organik di Desa Bajo, Kecamatan Kedungtuban, Selasa (29/1/2019).

BLORA (mustika.wartablora.com)—Bupati Blora H. Djoko Nugroho didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Ir. Reni Miharti M.Agr.Bus, bersama Pertamina EP Asset 4 Field Cepu melakukan panen padi perdana SRI (System of Rice Intensification) Organik di Desa Bajo, Kecamatan Kedungtuban, Selasa (29/1/2019). Panen perdana ini menandai awal keberhasilan Pertamina mendampingi 47 petani yang tergabung dalam kelompok tani Bina Alam Sri dalam mengembangkan pertanian organik di kawasan tak jauh dari titik sumur migas NKT-A.

"Terima kasih Pertamina yang program CSR-nya di bidang pertanian mengembangkan pertanian organik," ucap Bupati dalam kesempatan tersebut.

Bupati merasa senang dan bangga terhadap hasil pertanian yang ada di Desa Bajo ini. Bupati juga ingin agar konsep pertanian SRI Organik ini bisa ditularkan ke petani-petani lainnya agar Blora bisa lebih swasembada beras dan ramah lingkungan.

"Blora dalam setahun bisa memproduksi gabah sebanyak 600.000 ton, atau beras sebanyak 450.000 ton. Dari jumlah itu, yang dikonsumsi warga Kabupaten Blora hanya 23 persennya saja. Artinya 70 persen lebih kita jual keluar daerah. Jika hasil ini bisa ditingkatkan lagi dengan konsep SRI Organik maka saya yakin Blora akan menjadi lumbung padi yang lebih besar dan menyehatkan,” kata Bupati.

"Kepada Dinas Pertanian dan Petahanan Pangan, sampaikan kepada kelompok tani se Kabupaten Blora agar belajar ke Bajo. Saya ingin Bajo bisa menjadi rujukan untuk belajar pertanian organik."

Dalam kesempatan itu, Bupati juga menyoroti tingginya kasus stunting (kekerdilan-red) di Kecamatan Kedungtuban. Kecamatan yang selama ini menjadi lumbung padi, ternyata memiliki kasus stunting terbanyak.

"Penggunaan pupuk kimia yang berlebihan dalam menanam padi saya kira berpengaruh pada kualitas gizi beras yang dihasilkan. Maka dari itu ayo kira galakkan pertanian organik seperti di Desa Bajo ini. Apabila semuanya bisa melakukannya dengan baik, bukan tidak mungkin penggunaan pupuk kimia semakin berkurang, sawahnya semakin subur dan berasnya semakin menyehatkan. Semoga tidak stunting lagi,” tegas Bupati.

Pasalnya menurut Bupati kasus staunting merupakan bencana kemanusiaan. Kalau hanya miskin saja, maka otaknya masih bisa berfikir untuk membuka usaha. Namun kalau sudah stunting, tidak hanya badannya saja yang kerdil, namun otaknya juga. Sehingga daya pikirnya rendah, menjadi manusia yang bodoh akibat kekurangan gizi.

Ketua kelompok tani Bina Alam Sri, Surat menyatakan bahwa tanaman padi organik yang ditanam kali ini merupakan pertama kali hasil pelatihan dan pendampingan dari Pertamina serta Dinas Pertanian.

“Padi yang kami tanam adalah varietas Sintanur dengan menggunakan perawatan pupuk organik. Semua bahan pupuknya kita dapat dari alam sekitar, pupuk cair organik kita buat sendiri sesuai apa yang dilatihkan. Sehingga lebih hemat dan hasilnya lebih banyak, Alhamdulillah,” ujar Surat.

“Sawah yang sebelumnya menggunakan pupuk kimia hanya bisa menghasilkan gabah sebanyak 7 ton per hektar. Namun setelah kami mengenal pertanian organik yang ramah lingkungan ini, hasilnya bisa sampai 8 ton hingga 9 ton per hektarnya,” lanjut Surat.

Tidak hanya untung dari segi jumlah panen, namun juga murah karena semua pupuknya dibuat sendiri. Sehingga tidak perlu beli pupuk kimia yang mahal.

“Sudah tidak pakai urea lagi. Tanahnya juga lebih subur karena unsur haranya semakin banyak akibat pemberian pupuk organik. Terimakasih Pertamina dan Dinas Pertanian yang terus memberikan pendampingan dan pelatihan. Kami akan melanjutkan pertanian organik ini,” pungkasnya.

General Manager PT Pertamina Asset 4 Cepu, Agus Amperianto yang hadir langsung dalam panen itu menyampaikan bahwa program CSR Pertamina untuk para petani Desa Bajo, selain budidaya padi SRI Organik juga ada pelatihan penanaman sayuran organik dan tanaman obat keluarga (Toga) sebagai alternatif pengobatan tradisional yang menyehatkan.

“Kami berharap dengan adanya CSR ini dapat meningkatkan perekonomian para petani di Desa Bajo. Bisa meningkatkan pendapatan, dan memperkecil biaya produksi. Konsep pertanian organik ini tentunya kedepan bisa direplikasi ke petani lainnya,” ungkap Agus Amperianto.

Ia juga menyampaikan bahwa pendampingan petani oleh Pertamina ini dimulai sejak bulan Juli 2018. Saat itu ada 47 petani yang ikut pelatihan selama empat hari agar bisa menerapkan konsep pertanian organik. Hasilnya mereka sekarang bisa memanen padi organik perdana di persawahan yang sebelumnya digarap dengan pupuk kimia.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Blora, Ir. Reni Miharti M.Agr Bus, menyampaikan bahwa hasil pertanian SRI Organik di Desa Bajo ini cukup memuaskan. Selain hasilnya lebih banyak, biaya produksinya rendah.

“Saat ini harga gabah kering panen (GKP) per kilogramnya masih Rp 4.100 jika dipanen pakai alat perontok padi. Namun jika memakai combine harvester yang sudah ada blowernya, harganya lebih tinggi sekitar Rp 4.300 ke atas per kilogramnya,” ucap Reni Miharti.

Dengan harga segitu, menurutnya petani sudah mendapatkan keuntungan karena hasil total panen per hektarnya sudah naik lebih dari 1 ton dan modalnya sedikit karena pupuknya buat sendiri. Pihaknya berharap program ini bisa terus dilanjutkan dan ditularkan ke petani lainnya. (*)